Tiga nasehat Rasulullah

Februari 21st, 2010 by khusni

Rasulullah SAW pernah
memberikan tiga buah
nasehat kepada kedua
sehabatnya Abu Dzar
Jundub bin Junadah
dan Abu Abdurrahman
bin Jabal:
“Bertakwalah kamu
kepada Allah
dimanapun kamu
berada, dan ikutilah
kesalahanmu dengan
kebaikan niscaya ia
dapat
menghapuskannya.
Dan pergaulilah
manusia dengan
akhlak terpuji. ” (HR.
Tirmidzi)
Tiga pesan Rasulullah
SAW tersebut layak
untuk kita perhatikan
karena sangat
berkaitan erat dengan
kehidupan kita sehari-
hari.
1- BERTAQWA DIMANA
SAJA
Definisi dari kata
taqwa dapat dilihat
dari percakapan
antara sahabat Umar
dan Ubay bin Ka ’ab
RA. Suatu ketika
sahabat Umar RA
bertanya kepada Ubay
bin Ka ’ab apakah
taqwa itu? Dia
menjawab;
“ Pernahkah kamu
melalui jalan berduri?”
Umar menjawab;
“ Pernah!” Ubay
menyambung, “Lalu
apa yang kamu
lakukan ?” Umar
menjawab; “Aku
berhati-hati, waspada
dan penuh
keseriusan. ” Maka
Ubay berkata; “Maka
demikian pulalah
taqwa !”
Sedang menurut
Sayyid Qutub dalam
tafsirnya —Fi Zhilal al-
Qur`an—taqwa
adalah kepekaan hati,
kehalusan perasaan,
rasa khawatir yang
terus menerus dan
hati-hati terhadap
semua duri atau
halangan dalam
kehidupan.
Kalau ada suatu iklan
minuman ringan:
“ Dimana saja dan
kapan saja …”, maka
nasehat Nabi SAW ini
menunjukkan bahwa
kita harus bertaqwa
dimana saja. Sedang
perintah taqwa kapan
saja terdapat dalam
Al-Qur’an surat Ali
‘ Imran [3]: 102:
“Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah
kepada Allah sebenar-
benar takwa kepada-
Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati
melainkan dalam
keadaan beragama
Islam ”
Jadi dimanapun dan
kapanpun kita harus
menjaga ketaqwaan
kita. Taqwa dimana
saja memang sulit
untuk dilakukan dan
harus usaha yang
dilakukan harus ekstra
keras. Akan sangat
mudah ketaqwaan itu
diraih ketika kita
bersama orang lain,
tetapi bila tidak ada
orang lain maka
maksiyat dapat
dilaksanakan. Sebagai
contoh, ketika kita
berkumpul di dalam
suatu pengajian atau
majelis zikir, pikiran
dan pandangan kita
akan terjaga dengan
baik. Tetapi ketika
kita berjalan sendirian
di suatu tempat
perbelanjaan, maka
pikiran dan pandangan
kita bisa tidak terjaga.
Untuk menjaga
ketaqwaan kita
dimanapun saja, maka
perlunya kita
menyadari akan
pengawasan Allah SWT
baik secara langsung
maupun melalui
malaikat-Nya.
2 KEBAIKAN YANG
MENGHAPUSKAN
KESALAHAN
Setiap orang selalu
melakukan kesalahan.
Hari ini mungkin kita
sudah melakukan
kesalahan baik yang
kita sadari maupun
yang tidak kita sadari.
Oleh sebab itu, segera
setelah kita berbuat
kesalahan, lakukan
kebaikan. Kebaikan
tersebut dapat
menghapuskan
kesalahan yang telah
dilakukan.
Untuk dosa yang
merugikan diri sendiri,
maka salah satu cara
untuk menghapusnya
adalah dengan
bersedekah.
Rasulullah SAW
bersabda: “Sedekah
itu menghapus
kesalahan
sebagaimana air
memadamkan api”.
Maka ada orang yang
ketika dia sakit maka
dia memberikan
sedekah agar
penyakitnya segera
sembuh. Hal ini
dikarenakan segala
penyakit yang kita
miliki itu adalah
karena kesalahan
yang kita pernah
lakukan.
Sedang dosa yang
dilakukan terhadap
orang lain, maka yang
perlu dilakukan adalah
memohon maaf, yang
bagi beberapa orang,
sangat sulit untuk
dilakukan. Padahal
Rasulullah SAW selalu
minta maaf ketika
bersalah bahkan
terhadap Ibnu Ummi
Maktum beliau
memeluknya dengan
hangat seraya
berkata: “Inilah
orangnya, yang
membuat aku ditegur
oleh Allah … (QS.
‘Abasa)”. Setelah
minta maaf kemudian
sebaiknya bawalah
sesuatu hadiah atau
makanan kepada
orang tersebut agar
dia senang, maka
kesalahan tersebut
Insya Allah akan lebih
cepat dihapuskan.
3- AKHLAQ YANG
TERPUJI
Akhlaq terpuji adalah
keharusan dari setiap
muslim. Tidak memiliki
akhlaq tersebut akan
dapat mendekatkan
seseorang dalam
siksaan api neraka.
Dari beberapa jenis
akhlaq kita terhadap
orang lain, yang perlu
diperhatikan adalah
akhlaq terhadap
tetangga.
“Barang siapa yang
beriman kepada Allah
dan hari akhir maka
jangan menyakiti
tetangganya. ” (HR.
Bukhari)
Dari Abu Syuraih RA,
bahwa Nabi
Muhammad SAW
bersabda: “Demi Allah
seseorang tidak
beriman, Demi Allah
seseorang tidak
beriman, Demi Allah
seseorang tidak
beriman. ” Ada yang
bertanya: “Siapa itu
Ya Rasulullah?” Jawab
Nabi: “Yaitu orang
yang tetangganya
tidak aman dari
gangguannya. ” (HR.
Bukhari)
Dari hadits tersebut,
peringatan Rasul
sangat keras sampai
diulangi tiga kali yaitu
tidak termasuk
golongan orang
beriman bagi
tetangganya yang
tidak aman dari
gangguannya. Maka
terkadang kita perlu
instropeksi dengan
menanyakan kepada
tetangga apakah kita
mengganggu mereka.
Wallahu a’lam…

Leave a Reply

RSS Feed